Jumat, 25 Mei 2012

Asal Mula Perang Dingin (Amerika Serikat VS Uni Soviet)

Istilah “Perang Dingin” muncul pada tahun 1947 yang diperkenalkan oleh Bernard Baruch dan Walter Lippman dari Amerika Serikat, sebagai interpretasi dari hubungan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Seperti yang kita ketahui Perang Dingin adalah sebutan bagi sebuah Periode dimana terjadi berbagai konflik, ketegangan dan kompetisi antara Amerika Serikat sebagai Blok Barat dan Uni Sovyet sebagai Blok timur pada 1947-1991. Persaingan keduanya terjadi di berbagai bidang, yaitu koalisi militer, ideologi, psikologi, industri, perkembangan teknologi, pertahanan, perlombaan Nuklir, persenjataan dan masih banyak lagi. Yang ditakutkan dari peperangan ini adalah akan berakhir dengan perang Nuklir meskipun pada akhirnya hal tersebut tidak terjadi.

Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet serta sekutu-sekutu mereka berawal dari masalah pada masa penyelesaian perang Dunia II. Dalam Perang Dunia II, keduanya mempunyai hubungan yang dapat dibilang harmonis sebagai satu sekutu dan memenangkan perang atas Jerman, Italia dan Jepang. Kemenagan tersebut ternyata tidak diikuti dengan perdamaian sejati, persekutuan keduanya akhirnya dinodai dengan perbedaan ideologi yang sangat Kontras antara Kapitalis-Liberalis dan Komunis. Keduanya malah berseteru setelah berhasil melawan Jerman, Italia dan Jepang. Konfrensi antara Stalin (Uni Sovyet), Roosevelt (AS) dan Churchill (inggris) yang dikenal dengan Konfrensi Teheran pada November 1943, merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap peristiwa-peristiwa selanjutnya. Dalam konfrensi tersebut, mereka menyatakan untuk menghancurkan Jerman dan mencari strategi militer terbaik.

Pada konfrensi Pasca Perang di Postdam Juli 1945, perbedaan yang terpendam cukup lama tentang Eropa Timur, akhirnya muncul kembali. Presiden USA, Harry S Truman, dia mempunyai kebijakan yang berbeda dari pada pendahulunya, ia menginginkan diadakannya pemilu yang bebas dikawasan Eropa Timur. Keinginan tersebut langsung ditentang oleh Stalin, karena Stalin beranggapan bahwa jika hal tersebut diterpkan maka Eropa Timur akan membentuk pemerintahan yang anti Sovyet maka dari itu Stalin tidak mengijinkanya.

Perbedaan pandangan antara Uni Sovyet dan Amerika Serikat dalam konfrensi Postdam tersebut dapat dibilang sebagai embrio dari Perang Dingin. Masyarakat Amerika Serikat yang berada dalam pengaruh Perang Suci terhadap Hitler dan pandangan Politik Amerik yang mendapat pengaruh dari jutaan Pemilih dari Eropa Timur, ingin pemilu yang bebas dinegara yang telah diduduki oleh Uni Sovyet. Dilain pihak Stalin yang merasakan kehancuran negrinya akibat serangan pasukan Nazi menginginkan keamanan militer yang total dari Jerman dan Eropa Timur. Stalin percaya bahwa negara Komunis mampu menjadi kawan bagi Uni Sovyet maka dari itu jika pemilu bebas diadakan maka akan menghasilkan pemerintahan yang bermusuhan dengan Uni Sovyet.

Reaksi Amerika Serikat ternyata berlebihan, hal ini mulai nampak pada Mei 1945, sebelum diselenggarakanya konfrensi Postdam, Truman mengusulkan bahwa semua bantuan kke Uni Sovyet harus dihentikan. Pada Oktober Truman menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah mengakui sebuah pemerintahan jika pemerintahan tersebut didirikan secara paksa dan mengabaikan aspirasi politik rakyatnya. Maret 1946, mantan PM Inggris, Churchill juga menyatakan pada rakyat Amerika bahwa “Tirai Besi” telah digelar diseluruh daratan Eropa dengan membagi Jerman dan Eropa dalam dua kubu yang berlawanan. Sikap saling mencela ini akhirnya menjadi bagian dari kehidupan politik Amerika, Amerika sendiri merespon hal tersebut dengan melakukan mobilisasi di berbagai bidang.

Hal ini semakin memanas saat agen-agen rahasia Sstalin menyatakan “ perjuangan ideologi melawan imperialisme Kapitalis”. Partai Komunis Besar dengan agresif mnentang pemerintahan mereka melalui cara-cara kekerasan dan pemogokan. Uni Sovyet juga melakukan tekanan pada Iran dan Turki yang pro dengan Amerika. Perang Sipil yang didukung oleh Amerika Serikat juga terjadi di Yunani dan Cina.

Untuk menaggapi Uni Sovyet, Amerika Serikat melakukan politik Containing atau pengepungan terhadap komunisme di kawasan yang sudah dikuasai oleh Tentr Merah melalui Doktrin Truman. Truman meminta Amerika Serikat untuk mengirim bantuan militer ke Yunani dan Turki, agar negara-negara barat tidak jatuh ke tangan komunis, Amerika juga menawarkan bantuan melalui Marshall Plan.

Marshall Plan akhirnya mendapat penolakan dari Stalin, sebagai reaksi dari itu Stalin membentuk sistem Pemerintahan Sovyet, satu partai diktator komunis. Pendudukan Cekoslovakia pada Februari 1948, merupakan jawaban Uni Sovyet atas Amerika Serikat. Pendudukan tersebut menimbulkan kecemasan terhadap berkembangnya komunisme di Eropa yang dimulai dari Eropa Timur dan Jerman. Ketika Stalin memblokade semua lalu lintas dari zone pendudukan barat di Jerman ke Berlin Barat, sekutu meresponya dengan melakukan “Jembatan Udara”, yang terbang ke Brlin Barat selama 324 hari yang mengangkut bahan makanan ke Berlin sebagai bentuk dari politik Containing.

4 April 1949, Amerika Serikat berhasil membujuk negara-negara Eropa untuk menandatangani pakta pertahanan yang diknal dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO). Segera setelah itu pada 1955, Uni Sovyet juga mengikat negara-negara satelitnya di Eropa Timur dalam Pakta Warsawa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar